1 min read

Tidak Merokok Itu Biasa Saja

Aku tidak merokok dan itu biasa saja. Memangnya harus bagaimana? Mungkin berbeda bila awalnya aku merokok lalu berhenti, terdapat sebuah capaian di situ. Tentu, aku dapat mengerti kebahagiaan para perokok yang sudah berhenti.

Aku memang tidak merokok secara bawaan. Bapakku awalnya seorang perokok, namun saat aku lahir ia sudah berhenti hingga aku tak pernah melihat contoh seorang perokok.

Benar, aku pernah mencobanya dengan alasan yang pragmatis atau bahkan alasan yang lebih filosofis. Alasan pragmatis itu hanya ingin terlihat maskulin saja, dan alasan filosofis seolah itu dapat mengentaskan stres. Sialnya, stresnya tetap ada dan lambungku semakin tak karuan.

Tidak ada kebahagiaan saat merokok, semu rasanya. Tidak mengubah apapun, masyrakat tetap feodal, indeks demokrasi menurun, daya pikir kian pragmatis, dan kita tetap berpura-pura ketimuran. Tak perlu bicara soal kesejahteraan sambil merokok, asap rokokmu itu tengah dihirup orang lain.

Memang, kita semua akan mati, namun mati sebagai seorang perokok sungguh tidak menarik. Tentu, itu masih termaafkan alih-alih mati sebagai pelacur intelektual.